Ahli sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Aminuddin
Kasdi enemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan
target mendirikan negara komunis di Indonesia.
"Jadi, pengakuan pihak tertentu ada skenario ABRI melakukan
penangkapan orang-orang PKI setelah Oktober atau ada pembantaian
terencana oleh NU terhadap PKI, ternyata tidak didukung bukti historis,"
katanya di Surabaya, Senin (30/6/2014) seperti dikutip ANTARA.
Menurut dia, fakta yang sebenarnya justru ada dalam buku kecil atau
buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis CC (Committe Central) PKI
pada 1957, yang merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI
tentang negara komunis di Indonesia.
"Buku yang saya temukan itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumorpun diembuskan untuk mengaburkan fakta," katanya.
Tanpa menyebut asal-usul dokumen yang terlihat lusuh itu, ia mengaku
bersyukur dengan temuan dokumen yang tak terbantahkan itu. "Kalau ada
orang NU melakukan pembunuhan, itu bukan direncanakan, tapi reaksi atas
sikap PKI sendiri yang menyebabkan chaos itu," katanya.
Ia menjelaskan sikap PKI memang menyakitkan, sehingga NU melakukan
reaksi balik. "PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya
menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena
belum dikhitan, dan banyak lagi," katanya.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat jangan terpengaruh dengan
provokasi politik yang didukung media massa untuk "membesarkan" PKI guna
mengaburkan sejarah dengan menghalalkan segala cara.
"Kita jangan terpancing dengan sisa-sisa orang PKI di berbagai lini
yang berusaha membangkitkan mimpi tentang negara komunis melalui media
massa, buku-buku, dan semacamnya yang seolah-olah benar dengan bersumber
kesaksian," kata dia.
"Ada sisa-sisa PKI bercokol di media massa," katanya pula.
Ia menambahkan, testimoni berbagai pihak itu mungkin benar, namun
testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui
skenario besar dari PKI untuk merancang tiga revolusi dengan goal untuk
mendirikan negara komunis di Indonesia.
"Saya bukan hanya bersaksi, karena saya juga sempat mengalami sejarah
pemberontakan PKI itu dan lebih dari itu, saya mempunyai bukti yang
sangat gamblang dari dokumen PKI sendiri," katanya.
Senada dengan itu, guru besar Universitas dr Soetomo Surabaya, Prof
Dr Sam Abede Pareno, menyatakan, buku Memoir on The Formation of
Malaysia, karya Ghazali Shafie terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia,
menunjukkan kaitan erat Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan PKI.
"Dalam buku itu jelas Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak
dengan Tungku Abdul Rachman di Tokyo pada tahun 1963, karena PKI tidak
suka dengan pertemuan itu," kata penulis buku Rumpun Melayu, Mitos dan
Realitas itu.
Oleh karena itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia itu bukan sekadar
demo anti-Indonesia atau demo anti-Malaysia, melainkan PKI merancang
konfrontasi itu agar rencana besar (negara komunis) tidak "terbaca".
Apalagi Bung Karno melontarkan gagasan nasionalis, agama, dan komunis yang justru "melindungi" gerakan PKI.
"PKI memang selalu memanfaatkan kelengahan pemerintah Indonesia yang
sibuk menghadapi Agresi Militer I Belanda pada 1947 dengan aksi terpusat
di Madiun pada 1948," katanya.
"Lalu ketika pemerintah sibuk dengan Ganyang Malaysia yang juga
mereka sponsori itu, PKI menikam dari belakang dengan Gerakan 30
September 1965," katanya.
Pada Juli ini juga ada beberapa agenda besar nasional, di antara yang
terbesar adalah Pemilu Presiden 9 Juli nanti yang menyerap sejumlah
besar pengerahan sumber daya nasional.
Sumber: http://www.beritalangitan.com/index.php/berita/item/328-heboh-dokumen-rencana-pemberontakan-pki-ditemukan

Post a Comment